Selasa, 22 Januari 2008

Japanese Foods ?

Masakan dan makanan Jepang tidak selalu harus berupa "makanan yang sudah dimakan orang Jepang secara turun temurun." Makanan orang Jepang berbeda-beda menurut zaman, tingkat sosial, dan daerah tempat tinggal. Cara memasak masakan Jepang banyak meminjam cara memasak dari negara-negara Asia Timur dan negara-negara Barat. Di zaman sekarang, definisi makanan Jepang adalah semua makanan yang dimakan orang Jepang dan makanan tersebut bukan merupakan masakan asal negara lain.
Dalam arti sempit, masakan Jepang mengacu pada berbagai berbagai jenis makanan yang khas Jepang. Makanan yang sudah sejak lama dan secara turun temurun dimakan orang Jepang, tapi tidak khas Jepang tidak bisa disebut makanan Jepang. Makanan seperti Gyudon atau Nikujaga merupakan contoh makanan Jepang karena menggunakan bumbu khas Jepang seperti shōyu, dashi dan mirin. Makanan yang dijual rumah makan Jepang seperti penjual soba dan warung makan Kappō juga disebut makanan Jepang. Sebagian orang menganggap makanan yang mengandung daging sapi tidak bisa dianggap sebagai makanan Jepang karena kebiasaan makan daging baru dimulai zaman Restorasi Meiji sekitar 130 tahun lalu. Menurut orang di luar Jepang, berbagai masakan mengandung daging sapi seperti Sukiyaki dan Gyudon juga dimasukkan ke dalam kategori makanan Jepang. Dalam arti luas, bila masakan yang dibuat dari bahan makanan yang baru dikenal orang Jepang juga ikut digolongkan sebagai makanan Jepang, maka definisi masakan Jepang adalah makanan yang dimasak dengan bumbu yang khas Jepang.
Masakan Jepang sering merupakan perpaduan dari berbagai bahan makanan dan masakan dari berbagai negara. Parutan lobak yang dicampur saus sewaktu memakan bistik atau hamburg steak, dan selada dengan dressing parutan lobak merupakan contoh perpaduan makanan Barat dengan penyedap khas Jepang. Saus spaghetti yang dicampur mentaiko, tarako, natto, daun shiso atau umeboshi merupakan contoh makanan Barat yang dinikmati bersama bahan makanan yang memiliki rasa yang sudah akrab dengan lidah orang Jepang. Bistik dengan parutan lobak sebenarnya tidak dapat disebut sebagai makanan Jepang melainkan bistik ala Jepang (Wafū sutēki). Berdasarkan aturan ini, istilah "Wafū" (和風, ala Jepang?) digunakan untuk menyebut makanan yang lazim ditemukan dan dimakan di Jepang, tapi dimasak dengan cara memasak dari luar Jepang.
Berdasarkan aturan Wafū, beberapa jenis makanan sulit digolongkan sebagai makanan Jepang karena merupakan campuran antara makanan Jepang dan makanan asing:
Makanan Barat yang dicampur bahan makanan yang unik Jepang, seperti Sarada Udon (selada adalah makanan Barat tapi dicampur udon yang khas Jepang), kari, dan Anpan (roti berasal dari Barat berisi ogura yang khas Jepang).
Makanan khas Jepang yang berasal dari luar negeri tapi dibuat dengan resep yang sudah diubah sesuai selera lokal, seperti Ramen dan Gyōza.
Makanan yang berdasarkan bahan dan cara memasak tidak sulit diputuskan harus dimasukkan ke dalam kategori makanan Barat atau makanan Jepang, seperti Pork Ginger dan Butashōgayaki keduanya menunjuk pada makanan yang sama.
Sebagian besar ahli kuliner menganggap masakan Jepang mudah sekali dibedakan dengan makanan tradisional Korea dan Tiongkok yang bertetangga, walaupun beberapa makanan Korea juga mendapat pengaruh dari masakan Jepang. Di Korea juga dikenal Futomakizushi (disebut Kimbab), sup miso, dan asinan lobak (takuan) yang merupakan makanan khas Jepang.

Ōzeki (大関, Ōzeki)

Ōzeki (大関, Ōzeki?) adalah gelar dan peringkat yang disandang oleh pegulat sumo. Peringkat Ōzeki berada setingkat di bawah peringkat teratas Yokozuna dan biasanya peringkat ini dipenuhi pegulat-pegulat sumo yang menjadi pernah juara dalam berbagai turnamen. Sebelum ada peringkat Yokozuna, Ōzeki dulunya merupakan peringkat tertinggi yang bisa dicapai pegulat sumo.

[sunting] Kenaikan peringkat menjadi Ozeki
Pegulat sumo (rikishi) berperingkat sekiwake atau komusubi harus mengikuti sejumlah besar turnamen sebelum bisa menjadi Ōzeki. Rikishi harus menang paling sedikit dalam 33 pertandingan atau lebih pada 3 turnamen secara berturut-turut sebelum pegulat tersebut dapat dipertimbangkan menjadi Ōzeki. Pegulat biasanya perlu rekor bertanding 11 kali menang dan 4 kali kalah pada turnamen terakhir sebelum kenaikan peringkatnya menjadi Ōzeki bisa diproses. Kualitas teknik pegulat juga dijadikan pertimbangan. Pegulat yang di awal pertandingan banyak menggunakan strategi "menghindar" kemungkinan besar mendapat nilai minus. Pegulat yang tidak mau menyerang dianggap belum berhak menjadi pegulat papan atas. Ōzeki secara harafiah berarti "rintangan besar" yang sesuai dengan tingkat kesulitan untuk bisa diangkat sebagai Ōzeki.
Pegulat dapat dinaikkan peringkatnya menjadi Ōzeki berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan divisi penilaian dari dewan direktur Asosiasi Sumo Jepang. Bila seorang pegulat baru pertama kali diangkat menjadi Ōzeki, salah seorang dewan direktur akan datang mengunjungi pegulat di pusat latihan untuk menyampaikan kabar kenaikan peringkat. Ōzeki yang baru diangkat lalu mengucapkan janji untuk menjunjung tinggi kehormatan diri sebagai Ōzeki.

[sunting] Penurunan peringkat dari Ozeki
Seperti halnya pegulat dalam peringkat sanyaku, pegulat Ōzeki bisa diturunkan peringkatnya jika prestasi pegulat terus mengalami kemunduran. Penurunan peringkat merupakan prosedur dua tahap. Pada tahap pertama, Ōzeki yang dalam satu turnamen lebih banyak kalah daripada menang (memiliki makekoshi) disebut sebagai pegulat kadoban. Pegulat kadoban bisa dikembalikan statusnya menjadi Ōzeki bila pegulat tersebut berhasil mengantongi lebih banyak menang daripada kalah (memiliki kachikoshi) dalam turnamen berikutnya. Sebaliknya, pegulat yang sedang kadoban ternyata lebih banyak kalah daripada menang, pegulat tersebut akan diturunkan peringkatnya menjadi sekiwake.
Ōzeki yang sudah diturunkan peringkatnya menjadi sekiwake bisa dikembalikan statusnya sebagai Ōzeki jika pegulat tersebut bisa memenangkan lebih dari 10 pertandingan dalam satu turnamen. Jika pegulat Ōzeki yang sudah menjadi sekiwake hanya bisa mengantongi 10 kali kemenangan atau kurang dalam satu turnamen, pegulat harus memulai kembali usahanya menjadi Ōzeki dari nol. Sistem kenaikan dan penurunan peringkat Ōzeki sudah dimulai sejak Turnamen Nagoya tahun 1969 dan berlaku sampai sekarang.

[sunting] Keuntungan menjadi Ōzeki
Selain kenaikan gaji, pegulat sumo yang sudah bergelar Ōzeki akan menerima hak-hak istimewa:
Pensiunan Ōzeki dijanjikan jabatan tinggi di asosiasi sumo
Bila belum menjadi anggota asosiasi sumo, pensiunan Ōzeki diberi keanggotaan sementara selama 3 tahun di asosiasi
Pada waktu pensiun, Ōzeki diberi uang pensiun yang jumlahnya ditentukan berdasarkan prestasi dan lamanya menyandang gelar Ōzeki
Tempat parkir khusus di kantor asosiasi sumo
Hak suara dalam pemilihan dewan direktur asosiasi sumo
Hak mempekerjakan pegulat junior sebagai pembantu pribadi
Hak memakai kesho mawashi
Hak menjadi pembuka jalan (tsuyuharai) atau pembawa pedang (tachimochi) sewaktu mendampingi Yokozuna mengikuti dohyōiri khusus Yokozuna
Hak sebagai wakil pegulat sumo dalam acara-acara resmi seperti mendampingi kunjungan orang penting dalam turnamen sumo atau kunjungan seremonial ke kuil Shinto.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Ozeki"